Kamis, 27 Mei 2021

menejemen pendidikan

 

Nama : muhammad parizurrahman

Kelas : PAI 4A

Nim : 11901274

Temuan dari penelitian terkait pengelolaan mahasiswa diperoleh dari pelaksanaan rekrutmen mahasiswa baru, layanan konseling, ekstrakurikuler, bimbingan berprestasi utama yang dilakukan sebagai indikator yang sesuai, meskipun pada aspek bimbingan dan konseling. Untuk itu perlu dirumuskan perencanaan program yang meliputi kegiatan pada waktu pembelajaran maupun diluar waktu pembelajaran. Sebaliknya, faktor tersebut menjadi kendala, antara lain 1) kurangnya fasilitas pembelajaran dan belum adanya perencanaan yang baik dari Madrasah dalam menentukan jumlah siswa yang akan diterima, sehingga tidak ada pengaturan yang pasti dalam penerimaan siswa baru, dan hal tersebut menyebabkan jumlah siswa yang diterima tidak diimbangi dengan jumlah siswa yang harus diterima di kelas, 2) pengawasan terhadap siswa tidak dapat terus dilaksanakan dengan baik dalam pengendalian atau pengarahan dalam kegiatan yang berkaitan dengan siswa, 3) kurangnya kesiapan penyelenggara pendidikan di madrasah dalam mengelola siswa. Banyak Madrasah swasta yang tidak mampu bertahan karena jumlah siswanya yang terlalu banyak. Bahkan ketua yayasan pernah mengatakan lebih sulit mendapatkan siswa baru daripada mendapatkan guru baru. Lebih lanjut dikatakannya, untuk mendapatkan guru baru cukup dengan membuka lowongan kerja maka pelamar akan datang dengan mudah. Sebaliknya, mencari mahasiswa baru sangat sulit, tidak cukup hanya dengan menyebarkan brosur dan meletakkan pengumuman di jalan untuk mendapatkan siswa. Faktor ini menunjukkan bahwa dalam kegiatan pendidikan dalam era persaingan ini, mahasiswa merupakan komponen utama yang harus dikelola dan dihargai harkatnya, tidak berbeda dengan pembeli / konsumen seperti halnya dalam berbisnis . Rekonstruksi pembinaan yang perlu dilakukan dalam memaksimalkan pengelolaan siswa adalah 1) penerimaan siswa baru, Madrasah diperbolehkan menerima dan merekrut siswa sebanyak-banyaknya, namun harus disesuaikan dengan fasilitas dan ruang kelas yang tersedia. jika jumlah siswa banyak tetapi kualitasnya kurang baik bahkan menjadi ketidakefektifan dalam proses belajar mengajar, maka perlu diperhatikan dengan melihat jumlah kelas dan fasilitas yang tersedia; 2) Panitia persyaratan siswa Madrasah harus menetapkan standar nilai minimal atau nilai rata-rata kelulusan dalam seleksi siswa baru, dan dengan demikian dapat digunakan untuk menghasilkan siswa baru yang benar-benar memiliki kompetensi dan kualitas yang baik dalam pembinaan atau pembinaan. mengelola di bidang kemahasiswaan; 3) perlu adanya koordinasi melalui kegiatan kemahasiswaan, penggunaan alat, pengaturan waktu, pemberian dan penerimaan saran, mengarahkan dan membimbing kepala sekolah dan guru dalam bentuk membagi dan memberi tugas secara jelas, menjelaskan cara mengerjakan tugas dengan baik. Madrasah yang efektif dan terkelola dengan baik dapat mengatur prinsip-prinsip dalam mengelola siswa. untuk meningkatkan pemahaman dan penerimaan filosofi, nilai-nilai dan misi dalam memberikan perencanaan untuk seluruh kegiatan Madrasah memperhatikan pencapaian sasaran dan tujuan terpenting serta menentukan prioritas yang harus dicapai; 2) kepemimpinan yang efektif dan fleksibel dari kepala madrasah dalam mempengaruhi kebijakan Madrasah dan pelaksanaan program dengan perencanaan dan pelaksanaan yang jelas; 3) Menentukan standar perilaku dan kinerja yang jelas tinggi, adanya kerjasama yang tinggi antara guru, kepala madrasah, siswa dan masyarakat dalam memajukan perkembangan madrasah. Siswa pada jenjang Madrasah Aliyah memiliki kekhususan dimana siswanya berasal dari golongan masyarakat menengah ke bawah dan persoalan tentang keterampilan yang ada di bawah sekolah umum. Namun, bukan berarti proses pelayanan kemahasiswaan menjadi berbeda; Khususnya harus sama dengan sekolah lain.

Manajemen Guru dan Tenaga Kependidikan

Manajemen guru dan tenaga kependidikan idealnya harus memuat pelaksanaan peningkatan kompetensi dan kualifikasi guru dan pendidikan, bergabung dengan kursus  pelatihan, seminar, workshop yang diadakan di tingkat madrasah, kota atau provinsi, baik untuk guru atau tenaga kependidikan sesuai dengan program madrasah. Temuan dari penelitian ini terkait dengan manajemen guru dan tenaga kependidikan adalah kurangnya guru yang sesuai dengan kualifikasi keahliannya. Selain itu, ada kekurangannya dari banyaknya guru dengan kebutuhan mata pelajaran yang diajarkan. Penemuan ini juga menjadi masalah kebangsaan yang biasa dihadapi oleh setiap institusi pendidikan. Masalah pendidikan yang belakangan ini mempengaruhi pendidikan nasional menjadi sumbernya guru yang belum profesional . Faktor yang menghambat perkembangan Jumlah guru madrasah yang selama ini terbatas, status guru yang tidak jelas dan jumlah guru yang terbatas kualifikasi guru yang tidak memadai. Rekonstruksi pembinaan yang perlu dilakukan dalam memaksimalkan manajemen guru dan tenaga kependidikan sesuai dengan standar pendidikan manajemen sehingga perlu pembinaan melalui forum MGMP dan pembenahannya kualitas melalui studi lebih lanjut. Dalam hal panduan ini, perspektifnya perlu disesuaikan dan tindakan yang diambil antara kementerian pendidikan dan kementerian agama, kepada semua guru yang mengajar di Madrasah Aliyah dan guru-guru yang mengajar di Sekolah Menengah Atas umum, sehingga bisa bekerjabersama-sama untuk meningkatkan kualitas guru, dan itu akan berujung pada peningkatan lulusankualitas. Selain itu keberadaan petugas laboratorium, pustakawan, pegawai kantor dan lain-lain harus memenuhi standar kecukupan dan mutu.

Manajemen Kurikulum dan Kegiatan Pembelajaran

Guru merupakan salah satu faktor penting dalam pengelolaan kurikulum dan pembelajaran kurang memahami perkembangan kurikulum baru, kesulitan menyusun silabus, dan tidak mempromosikan berbagai metode pengajaran. Oleh karena itu, rekonstruksi panduan perlu dilakukan dilakukan, yang memberikan kesempatan kepada guru untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tingkat dan relevan dengan keterampilan mereka. Rekonstruksi bimbingan perlu dilakukan untuk memaksimalkan pengelolaan kurikulum dan kegiatan pembelajaran, seperti: 1) kurikulum yang digunakan bersifat fleksibel, disesuaikan dengan kebutuhan kondisi dan kebutuhan siswa serta lingkungan; 2) pelajaran mata di sekolah atau penurunan materi pelajaran, karena 19 subjek (47-55 jam) per minggu adalah sangat besar beban jika dibandingkan dengan SMA umum yang hanya memiliki 15 mata pelajaran (39 jam per minggu); 3) bahan utama setidaknya 5-7 jam, dan yang lainnya akan berkurang, dan itu akan terjadi ditambahkan ke materi utama; 4) Pengajaran bisa dimulai sejak tahun pertama (Kelas X), jadi pendalaman dan pendewasaan ilmu utama bisa lebih optimal. Inti dari Pembinaan pengelolaan kurikulum dan kegiatan pembelajaran memang menuntut Madrasah untuk memiliki kemandirian, kreativitas, inovasi, dan inisiatif dalam organisasi. Madrasah harus memiliki sumber daya yang cukup Kurikulum (Alam, Ismail, & Mishra, 2010). Oleh karena itu, Madrasah harus mampu melakukan pengembangan dan pengelolaan kurikulum, membentuk tim pengembangan kurikulum, melakukan pengembangan lokakarya pengembangan kurikulum, penyusunan kurikulum dengan melibatkan berbagai pihak yang terkait komponen, terutama untuk guru. Perkembangan kurikulum yang harus diperhatikan secara umum adalah pengelolaannya Kurikulum Madrasah, Kurikulum Madrasah memiliki keunikan dengan pendidikan Islamnya, namun demikian Harus dipikirkan bagaimana meratakan kurikulum yang menjadi baru semua sekolah dalam kelompok sekolah umum. Madrasah Aliyah termasuk dalam kelompok SMA sekolah sehingga muatan pengetahuan umum harus mengandung keterampilan yang harus dikuasai olehnya lulusan.